ISLAM AGAMAKU, ALLAH TUHANKU, MUHAMMAD NABIKU. WIJAYA MATRI WIRA, WICAK SANENG NAYA. (CERDAS MENGGUNAKAN PIKIRAN, BERANI MEMBELA YANG BENAR). DK.SIPIK - RT.01/RW.02 - DS.KALANGSONO - KEC.BANYUPUTIH - KAB.BATANG - JAWA TENGAH - INDONESIA. HP.0858 8287 0180 (KAMI MELAYANI KONSULTASI SEPUTAR SEPIRITUAL DAN KEHIDUPAN).
Saturday, 18 October 2014
Untukmu Para Pengantin Baru
Menjadi pasangan pengantin baru merupakan kebahagian tersendiri bagi kedua mempelai. Rasa bahagia itu begitu menyentuh qalbu yang paling dalam, hati seakan tak mampu menampung rasa bahagia yang telah meluap memenuhi relung hati. Namun begitu, kebahagian menjadi pengantin baru akan terasa lebih sempurna tatkala telah melewati kebersamaan dimalam pertama dengan penuh cinta. Malam dimana seseorang bisa menyalurkan hasratnya melalui jalan yang diridhai Allah. Sehingga, dengannya tak sekedar kenikmatan yang diperoleh tapi juga pahala dapat diraih. Nilai pahala akan lebih bertambah seiring bertambahnya rasa kasih dan sayang antara kedua mempelai manakala berhias dengan adab-adab saat menuju peraduan cinta, sebagaimana yang dituntunkan Nabi shallallahu a’laihi wasallam sebagai pembawa syariat Islam yang sempurna.
Diantara adab-adabnya adalah sebagai berikut :
Sebelum bermalam pertama, sangat disukai untuk memperindah diri masing-masing dengan berhias, memakai wewangian, serta bersiwak.
Berdasarkan sebuah hadits dari Asma’ binti Yasid radhiyallaahu ‘anha ia menuturkan, “Aku merias Aisyah untuk Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam. Setelah selesai, aku pun memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun duduk di sisi Aisyah. Kemudian diberikan kepada beliau segelas susu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminum susu tersebut dan menyerahkannya pada Aisyah. Aisyah menundukkan kepalanya karena malu. Maka segeralah aku menyuruhnya untuk mengambil gelas tersebut dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [HR Ahmad, sanad hadits ini dikuatkan oleh Al-Allamah Al-Muhadits Al-Albani dalam Adabul Zifaf].
Adapun disunnahkannya bersiwak, karena adab yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau selalu bersiwak setiap setiap hendak masuk rumah sebagaimana disebutkan oleh Aisyah radhiyallaahu ‘anha dalam Shahih Muslim. Selain itu akan sangat baik pula jika disertai dengan mempercantik kamar pengantin sehingga menjadi sempurnalah sebab-sebab yang memunculkan kecintaan dan suasana romantis pada saat itu.
Hendaknya suami meletakkan tangannya pada ubun-ubun istrinya seraya mendoakan kebaikan dengan doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan :
اللّهمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya (istri) dan kebaikan tabiatnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan tabiatnya.”[HR. Bukhari dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiyallaahu 'anhu].
Disunnahkan bagi keduanya untuk melakukan shalat dua rakaat bersama-sama. Syaikh Al Albani dalam Adabuz Zifaf menyebutkan dua atsar yang salah satunya diriwayatkan oleh Abu Bakr Ibnu Abi Syaiban dalam Al-Mushannaf dari sahabat Abu Sa’id, bekat budak sahabat Abu Usaid, beliau mengisahkan bahwa semasa masih menjadi budak ia pernah melangsungkan pernikahan. Ia mengundang beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diantaranya Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr, dan Hudzaifah.
Abu Sa’id mengatakan, “Mereka pun membimbingku, mengatakan, ‘Apabila istrimu masuk menemuimu maka shalatlah dua rakaat. Mintalah perlindungan kepada Allah dan berlindunglah kepada-Nya dari kejelekan istrimu. Setelah itu urusannya terserah engkau dan istrimu. “Dalam riwayat Atsar yang lain Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu mengatakan, perintahkan isrtimu shalat dibelakangmu.”
Ketika menjumpai istri, hendaknya seorang suami berprilaku santun kepada istrinya semisal dengan memberikan segelas minuman atau yang lainnya sebagimana dalam hadits di atas, bisa juga dengan menyerahkan maharnya. Selain itu hendaknya si suami untuk bertutur kata yang lembut yang menggambarkan kebahagiaannya atas pernikahan ini. Sehingga hilanglah perasaan cemas, takut, atau asing yang menghinggapi hati istrinya. Dengan kelembutan dalam ucapan dan perbuatan akan bersemi keakraban da keharmonisan di antara keduanya.
Bagi suami yang akan menjima’i istri hanya diperbolehkan ketika istri hanya diperbolehkan ketika istri tidak dalam keadaan haid dan pada tempatnya saja, yaitu kemaluan. Adapun arah dan caranya terserah yang dia sukai. Allah berfirman yang artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, “Haid itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhi (tidak menjima’i) wanita diwaktu haid, dan janganlah kalian mendekati (menjima’i) mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu pada tempat yang diperintahkan Allah kepad kalian (kemaluan saja). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat itu bagaimana saja kalian kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk diri kalian, bertakwalah kepada Allah, ketahuilah bahwa kalian kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” [Q.S. Al Baqarah: 222-223].
Apabila seorang suami ingin menggauli istrinya, janganlah ia terburu-buru sampai keadaan istrinya benar-benar siap, baik secara fisik, maupun secara psikis, yaitu istri sudah sepenuhnya menerima keberadaan suami sebagai bagian dari dirinya, bukan orang lain. Begitu pula ketika suami telah menyelesaikan hajatnya, jangan pula dirinya terburu-buru meninggalkan istrinya sampai terpenuhi hajat istrinya. Artinya, seorang suami harus memperhatikan keadaan, perasaan, dan keinginan istri. Kebahagian yang hendak ia raih, ia upayakan pula bisa dirasakan oleh istrinya.
Ingat, diharamkan melalui dubur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Barang siapa yang menggauli istrinya ketika sedang haid atau melalui duburnya, maka ia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.” [HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan yang lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud]. Kata ‘kufur’ dalam hadits ini menunjukkan betapa besarnya dosa orang yang melakukan hal ini. Meskipun, kata para ulama, ‘kufur’ yang dimaksud dalam hadits ini adalah kufur kecil yang belum mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Telah kita ketahui bersama bahwa syaitan selalu menyertai, mengintai untuk berusaha menjerumuskan Bani Adam dalam setiap keadaan. Begitu pula saat jima’, kecuali apabila dia senantiasa berdzikir kepada Allah. Maka hendaknya berdo’a sebelum melakukan jima’ agar hal tersebut menjadi sebab kebaikan dan keberkahan. Do’a yang diajarkan adalah:
بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
“Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaithan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami.”[HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallaahu 'anhu]. Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa seandainya Allah mengkaruniakan anak, maka syaithan tidak akan bisa memudharati anak tersebut. Al Qadhi menjelaskan maksudnya adalah syaithan tidak akan bias mearsukinya. Sebagaimana dinukilkan dari Al Minhaj.
Diperbolehkan bagi suami dan istri untuk saling melihat aurat satu sama lain.Diperbolehkan pula mandi bersama. Dari Aisyah radhiyallaahu ‘anha berkata, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah dalam satu bejana dan kami berdua dalam keadaan junub.” [HR. Al Bukhari dan Muslim.]
Tidak boleh menyebarkan rahasia ranjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya diantara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang mendatangi istrinya dan istrinya memberikan kepuasan kepadanya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.” [HR. Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallaahu 'anhu]
Diwajibkan bagi suami istri yang telah bersenggama untuk mandi apabila hendak shalat. Waktu mandi boleh ketika sebelum tidur atau setelah tidur. Namun apabila dalam mengakhirkan mandi maka disunnahkan terlebih dahulu wudhu sebelum tidur. Berdasarkan hadits Abdullah bin Qais, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah, ‘Apa yang dilakukan Nabi ketika junub? Apakah beliau mandi sebelum tidur ataukah tidur sebelum mandi?’ Aisyah menjawab, ‘Semua itu pernah dilakukan Rasulullah. Terkadang beliau mandi dahulu kemudian tidur dan terkadang pula beliau hanya wudhu kemudian tidur.”[HR. Ahmad dalam Al Musnad]
Dari poin-poin yang telah dijelaskan nampaklah betapa agungnya kesempurnaan syariat Islam dalam mengatur semua sisi kehidupan ini. Sehingga pada setiap gerak hamba ada nilai ibadah yang bisa direngkuh pahalanya. Tidak sekedar aktivitas rutin tanpa faedah, tak semua pemenuhan kebutuhan tanpa hikmah. Oleh sebab itu tak ada yang sia-sia dalam mengikuti aturan Ilahi dan meneladani sunnah Nabi. Semuanya memiliki makna serta mengandung kemaslahatan, karena datangnya dari Allah Dzat Yang Maha Tinggi Ilmu-Nya lagi Maha sempurna Hikmah-Nya. Maka dari itu syariat yang Allah turunkan selaras dengan fitrah hamba-Nya sebagai manusia, sebagimana disyariatkan pernikahan.
Kesempurnaan syariat Islam ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Allah terhadap hamba-Nya melebihi perhatian hamba terhadap dirinya sendiri. Oleh karenanya, hendaklah setiap hamba tetap berada di atas fitrah tersebut di atas agama allah agar dirinya selalu berada di atas jalan yang lurus, “(Tetaplah di atas fitrah) yang Allahtelah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” [QS. Ar Rum: 30]. Allahu a’lam.
Syurga Bukan Untuk Hati Yang Berjilbab
Suatu kisah yang berasal dari mimpi seseorang muslimah dari jawabannya ketika diajak berjilbab dengan jawaban
”Insya Allah, yang penting hati dulu yang berjilbab.”
Ada seorang wanita muslimah yang dikenal taat beribadah.
Ia selalu melaksanakan ibadah yang di wajibkan kepadanya dan kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya, Ia tak mau berjilbab / Tidak mau Menutup auratnya secara Syar’i.
Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab
”Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab. ”
Sudah banyak orang menanyakan maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.
Hingga di suatu malam ia pun bermimpi.
Ia bermimpi sedang berada di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas dipinggir taman.
Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya.
Ia tak sendiri.
Ada beberapa wanita disitu yang terlihat juga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.
“Assalamu’alaikum, saudariku….” Sapa ia kepada wanita yang berada disitu.
“Wa’alaikum salam. Selamat datang saudariku” jawab mereka.
“Terima kasih. Apakah ini surga?”
Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan, saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga ”
“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja
sudah seindah ini. ”
Wanita itu tersenyum lagi dan bertanya kepadanya,
”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku ?”
“Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah. ”
“Alhamdulillah..”
Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka.
Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di Taman mulai memasukinya satu-persatu.
“Ayo kita ikuti mereka” kata wanita itu setengah berlari.
“ Apa di balik pintu itu?” Katanya sambil mengikuti wanita itu
“ Tentu saja surga saudariku” larinya semakin cepat.
“ Tunggu..tunggu aku..” dia berlari namun tetap tertinggal oleh wanita di taman itu.
Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenym kepadanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari.
Ia lalu berteriak
“Amalan apa yang telah kau lakukan hingga engkau begitu ringan ?”
“Sama dengan engkau saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum.
Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Dan Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu untuk kembali bertanya kepadanya.
“ Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan ?”
Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata
“Apakah kau tak memperhatikan dirimu, apa yang membedakan dengan diriku ?”
Namun Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab. Dan wanita yang telah sampai di pintu yang sangat indah itu melanjutkan kata-katanya.
“ Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-NYa tanpa jilbab menutup auratmu ?”
Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan melanjutkan perkataannya,
”Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”
Ia tertegun..lalu terbangun..beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan shalat malam. Menangis dan menyesali perkataanya dulu..
Ia menyesali dirinya yang selama ini tetap pada pendiriannya bahwa yang penting hatinya dulu berjilbab namun ia melupakan dirinya yang tak berhijab / berkerudung secara syar’i.
Ia terus menangis dalam shalat malamnya, memohon ampun dan bertaubat kepada Allah serta berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya, bukan hanya hatinya saja yang berjilbab, namun seluruh badannya juga berjilbab.
Semoga Syurga bukan lagi menjadi impiannya namun menjadi kenyataan di akhir hayat nanti bagi mereka yang berjilbab dengan syar’i.
Semoga kisah ini bermanfaat, Allahu a’lam.
Telaga Hati
Indahnya Bila Kita Memiliki Telaga Hati
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi,
datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak
seperti orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua
masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu
mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke
dalam gelas, lalu diaduk perlahan.
“Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak tua itu.
“Asin. Asin sekali,” jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang
pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau. Sesampai di tepi
telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan
sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.
“Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat pemuda itu selesai
meneguk air itu, Beliau bertanya, “Bagaimana rasanya?” “Segar,” sahut
sang pemuda.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya Beliau lagi.
“Tidak,” jawab si anak muda.
Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. “Anak muda,
dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak
lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air
yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang
kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang
kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita
meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi,
saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu
hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Beliau melanjutkan nasehatnya.
“Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu.
Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan
hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam
setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Semoga ada manfaatnya.
Cara Menggapai Hidayah
Di antara sebab-sebab seseorang mendapatkan hidayah adalah:
1. Bertauhid
Seseorang yang menginginkan hidayah Allah, maka ia harus terhindar dari kesyirikan, karena Allah tidaklah memberi hidayah kepada orang yang berbuat syirik. Allah berfirman yang artinya “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kesyirikan, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-an’am:82).
2. Taubat kepada Allah
Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang yang tidak bertaubat dari kemaksiatan, bagaimana mungkin Allah memberi hidayah kepada seseorang sedangkan ia tidak bertaubat? Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”.
3. Belajar Agama
Tanpa ilmu (agama), seseorang tidak mungkin akan mendapatkan hidayah Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya “Jika Allah menginginkan kebaikan (petunjuk) kepada seorang hamba, maka Allah akan memahamkannya agama” (HR Bukhori)
4. Mengerjakan apa yang diperintahkan dan menjauhi hal yang dilarang.
Kemaksiatan adalah sebab seseorang dijauhkan dari hidayah. Allah berfirman yang artinya “Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami,dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (An-nisa: 66-68).
5. Membaca Al-qur’an, memahaminya mentadaburinya dan mengamalkannya.
Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. Al-Isra:9)
6. Berpegang teguh kepada agama Allah
Allah berfirman yang artinya “Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali-Imron:101).
7. Mengerjakan sholat.
Di antara penyebab yang paling besar seseorang mendapatkan hidayah Allah adalah orang yang senantiasa menjaga sholatnya, Allah berfirman pada surat Al-Baqoroh yang artinya “Aliif laam miim, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya dan merupakan petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”
Siapa mereka itu, dilanjutkan pada ayat setelahnya “yaitu mereka yang beriman kepada hal yang ghoib, mendirikan sholat dan menafkahkah sebagian rizki yang diberikan kepadanya” (QS. Al-baqoroh:3).
8. Berkumpul dengan orang-orang sholeh
Allah berfirman yang artinya “Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami.” Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am:71).
Ibnu katsir menafsiri ayat ini, “Ayat ini adalah permisalan yang Allah berikan kepada teman yang sholeh yang menyeru kepada hidayah Allah dan teman yang jelek yang menyeru kepada kesesatan, barangsiapa yang mengikuti hidayah, maka ia bersama teman-teman yang sholeh, dan barang siapa yang mengikuti kesesatan, maka ia bersama teman-teman yang jelek. “
Maka carilah sahabat yang mengajakmu ke pintu hidayah, carilah mereka yang mengajakmu ke syurga dan jauhilah mereka yang mengajakmu ke neraka.
Dengan mengetahui hal tersebut, marilah kita berupaya untuk mengerjakannya dan mengajak orang lain untuk melakukan sebab-sebab ini, semoga dengan jerih payah dan usaha kita dalam menjalankannya dan mendakwahkannya menjadi sebab kita mendapatkan hidayah Allah.
Syaikh Abdullah Al-bukhori mengatakan dalam khutbah jum’atnya “Semakin seorang meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah, niscaya bertambah hidayah padanya. Seorang hamba akan senantiasa ditambah hidayahnya selama dia senantiasa menambah ketaqwaannya. Semakin dia bertaqwa, maka semakin bertambahlah hidayahnya, sebaliknya semakin ia mendapat hidayah/petunjuk, dia semakin menambah ketaqwaannya. Sehingga dia senantiasa ditambah hidayahnya selama ia menambah ketaqwaannya.”
Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan orang-orang yang ada disekeliling kita, aamiin.
Cara menggapai hati yang istiqomah
Menggapai Hati yang Istiqomah
Allah ta’ala telah berfirman,
“Yaitu hari yang harta dan anak-anak tidak akan memberi manfaat, kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat”(Asy Syu’ara : 88-89)
“Sesungguhnya di dalam tubuh anak Adam ada segumpal daging; apabila segumpal daging itu baik maka seluruh tubuhnya akan baik. Segumpal daging itu adalah hati.” (HR Muslim dan Baihaqi).
CARA MENCAPAI HATI YANG ISTIQOMAH
Hati adalah sumber kebaikan dan keburukan seseorang. Bila hati penuh dengan ketaatan kepada Allah, maka perilaku seseorang akan penuh dengan kebaikan. Sebaliknya, bila hati penuh dengan syahwat dan hawa nafsu, maka yang akan muncul dalam perilaku adalah keburukan dan kemaksiatan.
Keburukan dan kemaksiatan ini bisa datang karena hati seseorang dalam keadaan lengah dari dzikir kepada Allah.
Ibnul Qoyyim al-Jauziyah berkata, “Apabila hati seseorang itu lengah dari dzikir kepada Allah, maka setan dengan serta merta akan masuk ke dalam hati seseorang dan mempengaruhinya untuk berbuat keburukan. Masuknya setan ke dalam hati yang lengah ini, bahkan lebih cepat daripada masuknya angin ke dalam sebuah ruangan.”
Oleh karena itu, hati seorang mukmin harus senantiasa dijaga dari pengaruh setan ini. Yaitu, dengan senantiasa berada dalam sikap taat kepada Allah SWT. Upaya inilah yang disebut dengan Istiqamah.
Imam al-Qurtubi berkata, “Hati yang istiqamah adalah hati yang senantiasa lurus dalam ketaatan kepada Allah, baik berupa keyakinan, perkataan, maupun perbuatan.” Lebih lanjut beliau mengatakan, “Hati yang istiqamah adalah jalan menuju keberhasilan di dunia dan keselamatan dari azab akhirat. Hati yang istiqamah akan membuat seseorang dekat dengan kebaikan, rezekinya akan dilapangkan dan akan jauh dari hawa nafsu dan syahwat. Dengan hati yang istiqamah, maka malaikat akan turun untuk memberikan keteguhan dan keamanan serta ketenangan dari ketakutan terhadap adzab kubur. Hati yang istiqamah akan membuat amal diterima dan menghapus dosa.”
Lalu bagaimanakah caranya menggapai hati untuk istiqomha…………..??????
Ada banyak cara untuk menggapai hati yang istiqamah ini.
Di antaranya:
Pertama, meletakkan cinta kepada Allah SWT di atas segala-galanya.
Ini adalah persoalan yang tidak mudah dan butuh perjuangan keras. Karena, dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengalami benturan antara kepentingan Allah dan kepentingan makhluk, entah itu kepentingan orang tua, guru, teman, saudara, atau yang lainnya. Apabila dalam kenyataanya kita lebih mendahulukan kepentingan makhluk, maka itu pertanda bahwa kita belum meletakkan cinta Allah di atas segala-galanya.
Padahal, Allah Subhanahu Wata’ala telah menegaskan bahwa siapa yang lebih mencintai sesuatu selain Allah, maka ia justru akan tersiksa dengan rasa cintanya itu. Siapa yang takut karena selain Allah, maka ia justru akan dikuasai oleh rasa takutnya itu. Siapa yang sibuk dengan selain Allah, maka ia akan mengalami kebosanan dan siapa yang mendahulukan yang lain daripada Allah, maka ia tidak akan mendapatkan keberkahan dari-Nya.
Kedua, membesarkan perintah dan larangan Allah.
Membesarkan perintah dan larangan Allah harus dimulai dari membesarkan dan mengagungkan pemilik perintah dan larangan tersebut, yaitu Allah Subhanahu Wata’ala. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman yang artinya,
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah.” Ulama dalam menafsirkan ayat ini mengatakan, “Mengapa kalian tidak takut akan kebesaran Allah.”
Membesarkan perintah Allah di antaranya adalah dengan menjaga waktu salat, melakukannya dengan khusyu, memeriksa rukun dan kesempurnaannya serta melakukannya secara berjamaah.
Ketiga, senantiasa berzikir kepada Allah.
Zikir adalah wasiat Allah kepada hamba-hamba-Nya dan wasiat Rasulullah kepada ummatnya. Dalam sebuah hadis qudsi Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Barangsiapa yang mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingat-Nya dalam diri-Ku. Dan barang siapa yang mengingat-Ku dalam kesibukan, maka Aku akan mengingat-Nya dalam kesibukan yang lebih baik darinya.” (HR Bukhari).
Keempat, Mempelajari kisah orang-orang saleh terdahulu.
Hal ini diharapkan agar kita bisa mengambil pelajaran dari mereka. Bagaimana kesabaran mereka ketika menghadapi ujian yang berat, kejujuran mereka dalam bersikap, dan keteguhan mereka dalam mempertahankan keimanan.
Allah SWT berfirman, “Sungguh dalam kisah-kisah mereka terdapat ibrah (pelajaran) bagi orang yang memiliki akal, ….”
Kelima, senantiasa berpikir tentang kebesaran ciptaan Allah.
Allah SWT memiliki ciptaan yang indah dan besar. Dengan memikirkan ciptaannya diharapkan bisa menyadari betapa besar kekuasaan Allah terhadap ciptaan-Nya itu. Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, telah diberikan kepada kalian beberapa permisalan, maka dengarkanlah (perhatikanlah) permisalan itu. Sesungguhnya orang-orang yang engkau seru selain Allah, mereka tidak akan mampu untuk menciptakan lalat, meskipun untuk melakukannya itu mereka berkumpul bersama…”
Keenam, Kenalilah Allah dengan nama-nama-Nya yang mulia / asmaul husna.
Knalilah Allah dengan nama dan sifat-sifatnya, niscaya hatimu akan lembut dan menjadi terarah ke jalan yang lurus.
Semakin kita mengenal Allah akan terbentuk rasa cinta kepada Allah, Rasa Takut Kepada Allah dan Rasa Harap kepada Allah. Rasa itulah yang akan selalu menuntun hati kita untuk selalu istiqomah di jalan-Nya.
Tuesday, 7 October 2014
4 Wanita Paling Mulia
Perempuan terbaik di dunia ini ada empat orang : Maryam binti Imran, Asiyah istri Firaun,
Khadijah binti Khuwalid, dan Fatimah binti Muhammad.”
( H.R Al-Bukhari dan Muslim dan Hisyam bin Hakim )
Wanita adalah sosok lemah lembut di mata para kaum adam. Di dalam agama islam wanita mendapat tempatnya serta dimuliakan kedudukannya oleh Allah swt. Di dalam al-Qur’an sosok wanita pun mendapat tempatnya dengan terdapatnya sebuah surat yang bernama An-Nisa ( wanita ).
Bahkan Rasulullah saw mengajari kita untuk memuliakan, menghormati, berbakti, kepada seorang ibu lalu ayah.
Rasulullah saw mengulangi penyebutan nama ibu sebanyak tiga kali dan nama ayah hanya satu kali, saat Rasulullah saw didatangi seorang sahabat yang menanyakan kepada siapa ia harus melakukan kebaikan dan berbakti selama ia masih hidup di dunia.
Betapa kaum wanita sangat dihormati. Dalam perjalanan sejarah islam pun tak lepas dari peran kaum wanita. Namun, dari sekian banyak wanita , hanya empat orang wanita ini yang mendapat tempat tertinggi di sisi-Nya. Siapa saja wanita-wanita tersebut?
Berikut ini keempat wanita yang paling mulia di dunia juga di sisi Rab-nya :
Siti Asiyah ( istri fir’aun )
Nama lengkapnya adalah Asiyah binti Muhazim bin Ubaid bin Rayyanbin al-walid. Seorang wanita yang berasal dari bani israil. Kedudukannya sebagai seorang istri serta permaisuri di kerajaan yang dipimpin oleh fir’aun membuatnya sangat dihormati di kalangan pejabat istana dan kalangan rakyat jelata.
Nabi Musa as lahir pada masa firaun memerintah, dan membuat sebuah peraturan dengan menyuruh para pengawalnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir.
Allah swt menyelematkan nabi Musa as dengan menyuruh ibunda nabi Musa as menghayutkannya ke sungai Nil. Dan akhirnya Para budak perempuan firaun telah memungut Musa a.s dari sungai yang dihanyutkan dalam peti tertutup. Namun mereka tidak berani membukanya sehingga mereka meletakkannya dihadapan istri fir’aun.
“Maka dipungutlah ia oleh keluarga fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.”
( Al-Qashash 28 : 8 )
Setelah Asiyah membuka penutup peti tersebut dan menyingkap tabirnya, maka ia melihat wajah cerah bersinar dengan cahaya kenabian dan keagungan.
Pada saat melihatnya itu, ia sangat menyukai dan mencintainya sehingga pada saat datang fir’aun bertanya, “Siapa anak ini?” dan fir’aun sempat menyuruh untuk menyembelih anak tersebut. Maka Asiyah memintanya agar tidak membunuhnya seraya berkata,
“( ia ) adalah penyejuk mata hatiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak.”
( Al-Qashash 28 : 9 )
maka fir’aun berkata kepadanya “menurutmu itu memang benar, tapi bagiku itu sama sekali tidak benar.”
Begitulah, hingga sampai dewasa nabi Musa as diasuh dan tinggal di lingkungan kerajaan firaun. Ketika Allah swt menyerukan kepada Musa untuk mengajak agar firaun beriman kepada Allah swt, maka firaun dengan sombongnya menolak ajakan nabi Musa as.
Diam-diam ibunda nabi Musa as, istri firaun mulai tertarik dengan ajaran yang dibawa oleh nabi Musa as. Ia pun akhirnya beriman kepada Allah swt. Keimanan istri firaun, tentu saja tanpa sepengetahuan suaminya.
Akan tetapi, lambat laun Fir’aun mulai curiga terhadap istrinya. Fir’aun pun memata-matai istrinya hingga ia pun mendapati keimanan istrinya. Betapa murka Firaun mengetahui bahwa istrinya sekaligus permaisurinya telah berkhianat.
Firaun memerintahkan kepada para prajurit agar istrinya dibunuh di tonggak-tonggak dengan jalan disiksa sampai mati. Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa ketika Siti Asiyah merasakan kesakitan akan siksaan Firaun serta terik panas matahari yang menyengat tubuhnya, maka Allah swt memerintahkan malaikat Jibril untuk menaungi Asiyah dengan sayapnya. Sampai Siti Asiyah tidak merasakan kesakitan lagi.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa nabi Musa as berdoa kepada Tuhan, agar siksaan itu diringankan. Setelah nabi Musa as berdoa untuk ibundanya tersebut, azab siksaan itu tidak lagi terasa sakit.
Siti Asiyah menjalani siksaan tersebut dengan rasa sabar dan berserah diri kepada Allah swt. Hingga ia berdoa kepada Allah swt untuk membangunkannya sebuah rumah di surga nanti.
Allah swt memperkenankan doa Siti Asiyah, dengan memperlihatkan dari atas langit rumah yang diminta oleh siti Asiyah di surga nanti. Ia pun tertawa, heranlah prajurit firaun melihatnya tertawa padahal ia sedang disiksa. Mereka pun mengira bahwa Siti Asiyah telah menjadi gila akibat siksaan tersebut.
”Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim.”
( At-tahrim 66 : 11 )
Keimanan Siti Asiyah dan keteguhannya, membuat ia mendapat tempat istimewa di hadapan Allah swt.
Siti Maryam ( ibu nabi isa as )
....”dan maryam putri imran yang memelihara kehormatannya, maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagaian dari roh ( ciptaan ) kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”
( At-tahrim 66 : 12 )
Siti Maryam, ibunda nabi Isa as adalah putri dari Imran. Sebelum kelahirannya, istri Imran bernazar kepada Allah swt, jika ia hamil kelak, ia akan menjadikan anaknya sebagai penjaga baitul maqdis. Ia pun meminta perlindungan kepada Allah swt agar anak dan cucunya nanti terhindar dari godaan setan.
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa begitu bayi lahir setan langsung mengganggu sehingga bayi menjerit , kecuali kelahiran Maryam dan putranya.
Betapa terkejutnya istri Imran mendapati bahwa ia melahirkan seorang anak perempuan bukan seorang anak laki-laki. Ia sedikit kecewa, namun ia berprasangka baik atas ketetapan Allah swt atas dirinya.
“Maka tak kala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata : “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan,-dan Allah lebih mengetahui apa yang di lahirkannya itu, dan anak laki-laki ( yang ia nazarkan itu ) tidaklah seperti anak perempuan ( yang ia lahirkan ini ) – sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku melindungkannya serta anak keturunannya kepada ( pemeliharaan ) Engkau daripada syetan yang terkutuk.”
( Q.S Ali Imran : 36 )
Maryam pun beranjak dewasa dan menjadi seorang ahli ibadah. Ia juga seorang wanita yang menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Maka, tak kala Allah swt menyampaikan sebuah kabar bahagia melalui malaikat Jibril bahwa ia akan mengandung. Terkejutlah maryam dengan berita tersebut.
“Maryam berkata : “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan ( pula ) seorang penzina.”
“Jibril berkata : “Demikianlah.”Tuhanmu berfirman : “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan ( Kami berbuat demikian ) agar dapat Kami menjadikannya sebagai suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”
( Q.S.Maryam : 20– 21 )
Kehamilan Maryam tanpa seorang suami membuat ia harus menjauhkan dirinya dari keluarga, terutama kaumnya yang dapat membahayakan jiwa dirinya juga anak yang tengah dikandungnya. Betapa berat cobaan yang tengah dihadapi Maryam ketika ia harus berjuang seorang diri tanpa keluarga disisinya. Ia pun merasakan sakitnya saat melahirkan nabi Isa as tanpa seorang pun yang membantu proses kelahirannya.
Namun, kasih sayang , pertolongan dan perlindungan Allah swt kepada Maryam melalui malaikat Jibril membuat kesedihan di hati Maryam terobati. Bahkan Allah swt melimpahkan karunianya dengan menyediakan segala kebutuhan yang dibutuhkan Maryam saat itu.
Setelah kelahiran nabi Isa as, Maryam pun membawa anaknya yang masih bayi tersebut kepada keluarganya. Maryam harus menghadapai kaumnya yang menuduhnya melakukan tindakan tidak terpuji. Allah swt menunjukkan kuasa-Nya, dengan membuat nabi isa as yang masih bayi dapat berbicara menjawab tuduhan tersebut,
“Berkata Isa : Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab ( Injil ) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku ( mendirikan ) shalat dan ( menunaikan ) zakat selama aku hidup.
Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
( Q.S. Maryam : 30-33 )
“Dan ( Ingatlah ) ketika Malaikat ( Jibril ) berkata :
“Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu
Dan
Melebihkan kamu atas segala wanita di dunia ( yang semasa dengan kamu )
( Q.S. Ali Imran : 42 )
Khadijah
Nama lengkapnya khadijah binti khuwalid bin as’ad bin abd al uzza. Ia dilahirkan di Makkah tahun 68 sebelum hijrah. Ia adalah wanita yang sukses dalam perniagaan , seorang saudagar wanita terhormat dan kaya raya. Pada masa jahiliyah ia dipanggil ath-thaharoh ( wanita suci ) karena ia senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Orang-orang quraisy menyebutnya sebagai pemimpin wanita quraisy.
Rasulullah bersabda tentang khadijah, “Allah tidak menggantikan untukku wanita yang lebih baik darinya. Ia beriman kepadaku di saat orang lain mendustakanku, ia menolongku dengan hartanya di saat orang lain tidak ada yang menolongku, dan Allah telah menganugrahkan kepadaku putra ( dari hasil perkawinan ) nya sedang wanita-wanita lain tidak.
Keistimewaan khadijah
1. Ia adalah wanita yang pertama kali memeluk islam. Ia beriman kepada Nabi di saat semua orang kafir ( ingkar ) kepadanya.
2. Ia adalah wanita pertama yang dijamin masuk surga bahkan ia mendapat kabar gembira dari Allah swt, bahwa Allah telah membangunkan baginya rumah di surga
Abu Hurairah RA menyatakan bahwa Jibril datang kepada Nabi Saw seraya berkata,”Wahai Rasulullah, Khadijah sedang berjalan kemari. Ia membawa wadah yang berisi kuah, makanan atau minuman. Jika ia sampai kepadamu, maka katakanlah bahwa Tuhannya dan aku menyampaikan salam kepadanya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepadanya bahwa ia mendapat sebuah rumah di dalam surga.”
( Mutafaq’alaih )
3. Manusia pertama yang mendapat salam dari Allah yang disampaikan dari langit ke tujuh. Ia pantas menerimanya karena selalu setia mendampingi Nabi dalam kondisi seperti apapun
Anas RA meriwayatkan bahwa ketika Jibril datang kepada Rasulullah saw yang sedang berduaan dengan khadijah RA, Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepada khadijah.” Khadijah membalas “Sesungguhnya Allah lah As-Salam ( Maha Pemberi Kesejahteraan ). Sebaliknya kuucapkan salam kepada Jibril dan kepadamu. Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan, rahmat dan berkahnya kepadamu.”
4. Wanita pertama yang layak dikategorikan Shiddiq ( jujur / dapat dipercaya ) diantara wanita mukmin lainnya
5. Mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan nabi
6. Wanita yang memberi keturunan bagi nabi
7. Wanita yang matang dan cerdas, pandai menjaga kesucian, dan terpandang bahkan sejak masa jahiliyah dan diberi gelar Ath-Thahiroh ( wanita yang suci ). Ia adalah orang yang terhormat, taat beragama, dan sangat dermawan
8. Seluruh hidupnya diberikan untuk mendukung dan membela dakwan Nabi
9. Orang yang pertama shalat bersama Nabi Muhammad saw
Fatimah Az-Zahra
Fatimah binti Muhammad (606/614 – 632) atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra (Fatimah yang selalu berseri) (Bahasa Arab: فاطمة الزهراء) putri bungsu Nabi Muhammad dari perkawinannya dengan istri pertamanya, Khadijah.
Nama lengkapnya adalah fatimah binti muhammad bin abdullah bin abdul muthalib. Ia lahir lima tahun sebelum masa di utusnya Rasulullah saw. Ia merupakan putri termuda diantara putri-putri nabi lainnya. Ia menikah dengan Ali r.a pada usianya yang ke-18.
Rasulullah saw sangat menyayangi Fatimah, setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu menemui Fatimah sebelum menemui istri istrinya.
Dari Aisyah RA, Ummul mu’minin berkata,
”aku tidak pernah melihat seorangpun yang menyamai fatimah dalam hal keserupaan dengan nabi. Ketenangan daan keistiqomahannya dalam duduk maupun berdiri sebagaimana ketenangan dan keistiqomahan nabi. Ia disaat masuk ke rumah nabi, nabi langsung berdiri menyambut kedatangannya. Begitu pula di saat nabi mengunjungi rumah fatimah, ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut nabi, dan memeberikan tempat duduknya kepada Nabi.”
( H.R.Turmudzi )
Rasulullah saw juga mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:” Sungguh Fatimah bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fatimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”.
Setelah Rasulullah saw menjalankan haji wada’ dan ketika ia melihat Fatimah, beliau menemuinya dengan ramah sambil berkata,” Selamat datang wahai putriku”. Lalu Beliau menyuruh duduk disamping kanannya dan membisikkan sesuatu, sehingga Fatimah menangis dengan tangisan yang keras, tatkala Fatimah sedih lalu Beliau membisikkan sesuatu kepadanya yang menyebabkan Fatimah tersenyum.
Tatkala Aisyah bertanya tentang apa yang dibisikannya lalu Fatimah menjawab,” Saya tak ingin membuka rahasia”. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah bertanya lagi kepada Fatimah tentang apa yang dibisikan Rasulullah kepadanya sehingga membuat Fatimah menangis dan tersenyum.
Lalu Fatimah menjawab, ”Adapun yang Beliau katakan kepada saya pertama kali adalah beliau memberitahu bahwa sesungguhnya Jibril telah membacakan al-Qur’an dengan hafalan kepada beliau setiap tahun sekali, sekarang dia membacakannya setahun 2 kali, lalu Beliau berkata, “Sungguh saya melihat ajalku telah dekat, maka bertakwalah dan bersabarlah, sebaik-baiknya Salaf (pendahulu) untukmu adalah Aku”.
Maka akupun menangis yang engkau lihat saat kesedihanku. Dan saat Beliau membisikan yang kedua kali, Beliau berkata, ”Wahai Fatimah apakah engkau tidak suka menjadi penghulu wanita-wanita penghuni surga dan engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku”. Kemudian saya tersenyum.
Tatkala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah saw, Fatimah jatuh sakit, namun ia merasa gembira karena kabar gembira yang diterima dari ayahnya. Tak lama kemudian iapun beralih ke sisi Tuhannya pada malam Selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.
Khadijah binti Khuwalid, dan Fatimah binti Muhammad.”
( H.R Al-Bukhari dan Muslim dan Hisyam bin Hakim )
Wanita adalah sosok lemah lembut di mata para kaum adam. Di dalam agama islam wanita mendapat tempatnya serta dimuliakan kedudukannya oleh Allah swt. Di dalam al-Qur’an sosok wanita pun mendapat tempatnya dengan terdapatnya sebuah surat yang bernama An-Nisa ( wanita ).
Bahkan Rasulullah saw mengajari kita untuk memuliakan, menghormati, berbakti, kepada seorang ibu lalu ayah.
Rasulullah saw mengulangi penyebutan nama ibu sebanyak tiga kali dan nama ayah hanya satu kali, saat Rasulullah saw didatangi seorang sahabat yang menanyakan kepada siapa ia harus melakukan kebaikan dan berbakti selama ia masih hidup di dunia.
Betapa kaum wanita sangat dihormati. Dalam perjalanan sejarah islam pun tak lepas dari peran kaum wanita. Namun, dari sekian banyak wanita , hanya empat orang wanita ini yang mendapat tempat tertinggi di sisi-Nya. Siapa saja wanita-wanita tersebut?
Berikut ini keempat wanita yang paling mulia di dunia juga di sisi Rab-nya :
Siti Asiyah ( istri fir’aun )
Nama lengkapnya adalah Asiyah binti Muhazim bin Ubaid bin Rayyanbin al-walid. Seorang wanita yang berasal dari bani israil. Kedudukannya sebagai seorang istri serta permaisuri di kerajaan yang dipimpin oleh fir’aun membuatnya sangat dihormati di kalangan pejabat istana dan kalangan rakyat jelata.
Nabi Musa as lahir pada masa firaun memerintah, dan membuat sebuah peraturan dengan menyuruh para pengawalnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir.
Allah swt menyelematkan nabi Musa as dengan menyuruh ibunda nabi Musa as menghayutkannya ke sungai Nil. Dan akhirnya Para budak perempuan firaun telah memungut Musa a.s dari sungai yang dihanyutkan dalam peti tertutup. Namun mereka tidak berani membukanya sehingga mereka meletakkannya dihadapan istri fir’aun.
“Maka dipungutlah ia oleh keluarga fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.”
( Al-Qashash 28 : 8 )
Setelah Asiyah membuka penutup peti tersebut dan menyingkap tabirnya, maka ia melihat wajah cerah bersinar dengan cahaya kenabian dan keagungan.
Pada saat melihatnya itu, ia sangat menyukai dan mencintainya sehingga pada saat datang fir’aun bertanya, “Siapa anak ini?” dan fir’aun sempat menyuruh untuk menyembelih anak tersebut. Maka Asiyah memintanya agar tidak membunuhnya seraya berkata,
“( ia ) adalah penyejuk mata hatiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak.”
( Al-Qashash 28 : 9 )
maka fir’aun berkata kepadanya “menurutmu itu memang benar, tapi bagiku itu sama sekali tidak benar.”
Begitulah, hingga sampai dewasa nabi Musa as diasuh dan tinggal di lingkungan kerajaan firaun. Ketika Allah swt menyerukan kepada Musa untuk mengajak agar firaun beriman kepada Allah swt, maka firaun dengan sombongnya menolak ajakan nabi Musa as.
Diam-diam ibunda nabi Musa as, istri firaun mulai tertarik dengan ajaran yang dibawa oleh nabi Musa as. Ia pun akhirnya beriman kepada Allah swt. Keimanan istri firaun, tentu saja tanpa sepengetahuan suaminya.
Akan tetapi, lambat laun Fir’aun mulai curiga terhadap istrinya. Fir’aun pun memata-matai istrinya hingga ia pun mendapati keimanan istrinya. Betapa murka Firaun mengetahui bahwa istrinya sekaligus permaisurinya telah berkhianat.
Firaun memerintahkan kepada para prajurit agar istrinya dibunuh di tonggak-tonggak dengan jalan disiksa sampai mati. Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa ketika Siti Asiyah merasakan kesakitan akan siksaan Firaun serta terik panas matahari yang menyengat tubuhnya, maka Allah swt memerintahkan malaikat Jibril untuk menaungi Asiyah dengan sayapnya. Sampai Siti Asiyah tidak merasakan kesakitan lagi.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa nabi Musa as berdoa kepada Tuhan, agar siksaan itu diringankan. Setelah nabi Musa as berdoa untuk ibundanya tersebut, azab siksaan itu tidak lagi terasa sakit.
Siti Asiyah menjalani siksaan tersebut dengan rasa sabar dan berserah diri kepada Allah swt. Hingga ia berdoa kepada Allah swt untuk membangunkannya sebuah rumah di surga nanti.
Allah swt memperkenankan doa Siti Asiyah, dengan memperlihatkan dari atas langit rumah yang diminta oleh siti Asiyah di surga nanti. Ia pun tertawa, heranlah prajurit firaun melihatnya tertawa padahal ia sedang disiksa. Mereka pun mengira bahwa Siti Asiyah telah menjadi gila akibat siksaan tersebut.
”Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim.”
( At-tahrim 66 : 11 )
Keimanan Siti Asiyah dan keteguhannya, membuat ia mendapat tempat istimewa di hadapan Allah swt.
Siti Maryam ( ibu nabi isa as )
....”dan maryam putri imran yang memelihara kehormatannya, maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagaian dari roh ( ciptaan ) kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”
( At-tahrim 66 : 12 )
Siti Maryam, ibunda nabi Isa as adalah putri dari Imran. Sebelum kelahirannya, istri Imran bernazar kepada Allah swt, jika ia hamil kelak, ia akan menjadikan anaknya sebagai penjaga baitul maqdis. Ia pun meminta perlindungan kepada Allah swt agar anak dan cucunya nanti terhindar dari godaan setan.
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa begitu bayi lahir setan langsung mengganggu sehingga bayi menjerit , kecuali kelahiran Maryam dan putranya.
Betapa terkejutnya istri Imran mendapati bahwa ia melahirkan seorang anak perempuan bukan seorang anak laki-laki. Ia sedikit kecewa, namun ia berprasangka baik atas ketetapan Allah swt atas dirinya.
“Maka tak kala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata : “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan,-dan Allah lebih mengetahui apa yang di lahirkannya itu, dan anak laki-laki ( yang ia nazarkan itu ) tidaklah seperti anak perempuan ( yang ia lahirkan ini ) – sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku melindungkannya serta anak keturunannya kepada ( pemeliharaan ) Engkau daripada syetan yang terkutuk.”
( Q.S Ali Imran : 36 )
Maryam pun beranjak dewasa dan menjadi seorang ahli ibadah. Ia juga seorang wanita yang menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Maka, tak kala Allah swt menyampaikan sebuah kabar bahagia melalui malaikat Jibril bahwa ia akan mengandung. Terkejutlah maryam dengan berita tersebut.
“Maryam berkata : “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan ( pula ) seorang penzina.”
“Jibril berkata : “Demikianlah.”Tuhanmu berfirman : “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan ( Kami berbuat demikian ) agar dapat Kami menjadikannya sebagai suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”
( Q.S.Maryam : 20– 21 )
Kehamilan Maryam tanpa seorang suami membuat ia harus menjauhkan dirinya dari keluarga, terutama kaumnya yang dapat membahayakan jiwa dirinya juga anak yang tengah dikandungnya. Betapa berat cobaan yang tengah dihadapi Maryam ketika ia harus berjuang seorang diri tanpa keluarga disisinya. Ia pun merasakan sakitnya saat melahirkan nabi Isa as tanpa seorang pun yang membantu proses kelahirannya.
Namun, kasih sayang , pertolongan dan perlindungan Allah swt kepada Maryam melalui malaikat Jibril membuat kesedihan di hati Maryam terobati. Bahkan Allah swt melimpahkan karunianya dengan menyediakan segala kebutuhan yang dibutuhkan Maryam saat itu.
Setelah kelahiran nabi Isa as, Maryam pun membawa anaknya yang masih bayi tersebut kepada keluarganya. Maryam harus menghadapai kaumnya yang menuduhnya melakukan tindakan tidak terpuji. Allah swt menunjukkan kuasa-Nya, dengan membuat nabi isa as yang masih bayi dapat berbicara menjawab tuduhan tersebut,
“Berkata Isa : Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab ( Injil ) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku ( mendirikan ) shalat dan ( menunaikan ) zakat selama aku hidup.
Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
( Q.S. Maryam : 30-33 )
“Dan ( Ingatlah ) ketika Malaikat ( Jibril ) berkata :
“Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu
Dan
Melebihkan kamu atas segala wanita di dunia ( yang semasa dengan kamu )
( Q.S. Ali Imran : 42 )
Khadijah
Nama lengkapnya khadijah binti khuwalid bin as’ad bin abd al uzza. Ia dilahirkan di Makkah tahun 68 sebelum hijrah. Ia adalah wanita yang sukses dalam perniagaan , seorang saudagar wanita terhormat dan kaya raya. Pada masa jahiliyah ia dipanggil ath-thaharoh ( wanita suci ) karena ia senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Orang-orang quraisy menyebutnya sebagai pemimpin wanita quraisy.
Rasulullah bersabda tentang khadijah, “Allah tidak menggantikan untukku wanita yang lebih baik darinya. Ia beriman kepadaku di saat orang lain mendustakanku, ia menolongku dengan hartanya di saat orang lain tidak ada yang menolongku, dan Allah telah menganugrahkan kepadaku putra ( dari hasil perkawinan ) nya sedang wanita-wanita lain tidak.
Keistimewaan khadijah
1. Ia adalah wanita yang pertama kali memeluk islam. Ia beriman kepada Nabi di saat semua orang kafir ( ingkar ) kepadanya.
2. Ia adalah wanita pertama yang dijamin masuk surga bahkan ia mendapat kabar gembira dari Allah swt, bahwa Allah telah membangunkan baginya rumah di surga
Abu Hurairah RA menyatakan bahwa Jibril datang kepada Nabi Saw seraya berkata,”Wahai Rasulullah, Khadijah sedang berjalan kemari. Ia membawa wadah yang berisi kuah, makanan atau minuman. Jika ia sampai kepadamu, maka katakanlah bahwa Tuhannya dan aku menyampaikan salam kepadanya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepadanya bahwa ia mendapat sebuah rumah di dalam surga.”
( Mutafaq’alaih )
3. Manusia pertama yang mendapat salam dari Allah yang disampaikan dari langit ke tujuh. Ia pantas menerimanya karena selalu setia mendampingi Nabi dalam kondisi seperti apapun
Anas RA meriwayatkan bahwa ketika Jibril datang kepada Rasulullah saw yang sedang berduaan dengan khadijah RA, Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepada khadijah.” Khadijah membalas “Sesungguhnya Allah lah As-Salam ( Maha Pemberi Kesejahteraan ). Sebaliknya kuucapkan salam kepada Jibril dan kepadamu. Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan, rahmat dan berkahnya kepadamu.”
4. Wanita pertama yang layak dikategorikan Shiddiq ( jujur / dapat dipercaya ) diantara wanita mukmin lainnya
5. Mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan nabi
6. Wanita yang memberi keturunan bagi nabi
7. Wanita yang matang dan cerdas, pandai menjaga kesucian, dan terpandang bahkan sejak masa jahiliyah dan diberi gelar Ath-Thahiroh ( wanita yang suci ). Ia adalah orang yang terhormat, taat beragama, dan sangat dermawan
8. Seluruh hidupnya diberikan untuk mendukung dan membela dakwan Nabi
9. Orang yang pertama shalat bersama Nabi Muhammad saw
Fatimah Az-Zahra
Fatimah binti Muhammad (606/614 – 632) atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra (Fatimah yang selalu berseri) (Bahasa Arab: فاطمة الزهراء) putri bungsu Nabi Muhammad dari perkawinannya dengan istri pertamanya, Khadijah.
Nama lengkapnya adalah fatimah binti muhammad bin abdullah bin abdul muthalib. Ia lahir lima tahun sebelum masa di utusnya Rasulullah saw. Ia merupakan putri termuda diantara putri-putri nabi lainnya. Ia menikah dengan Ali r.a pada usianya yang ke-18.
Rasulullah saw sangat menyayangi Fatimah, setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu menemui Fatimah sebelum menemui istri istrinya.
Dari Aisyah RA, Ummul mu’minin berkata,
”aku tidak pernah melihat seorangpun yang menyamai fatimah dalam hal keserupaan dengan nabi. Ketenangan daan keistiqomahannya dalam duduk maupun berdiri sebagaimana ketenangan dan keistiqomahan nabi. Ia disaat masuk ke rumah nabi, nabi langsung berdiri menyambut kedatangannya. Begitu pula di saat nabi mengunjungi rumah fatimah, ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut nabi, dan memeberikan tempat duduknya kepada Nabi.”
( H.R.Turmudzi )
Rasulullah saw juga mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:” Sungguh Fatimah bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fatimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”.
Setelah Rasulullah saw menjalankan haji wada’ dan ketika ia melihat Fatimah, beliau menemuinya dengan ramah sambil berkata,” Selamat datang wahai putriku”. Lalu Beliau menyuruh duduk disamping kanannya dan membisikkan sesuatu, sehingga Fatimah menangis dengan tangisan yang keras, tatkala Fatimah sedih lalu Beliau membisikkan sesuatu kepadanya yang menyebabkan Fatimah tersenyum.
Tatkala Aisyah bertanya tentang apa yang dibisikannya lalu Fatimah menjawab,” Saya tak ingin membuka rahasia”. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah bertanya lagi kepada Fatimah tentang apa yang dibisikan Rasulullah kepadanya sehingga membuat Fatimah menangis dan tersenyum.
Lalu Fatimah menjawab, ”Adapun yang Beliau katakan kepada saya pertama kali adalah beliau memberitahu bahwa sesungguhnya Jibril telah membacakan al-Qur’an dengan hafalan kepada beliau setiap tahun sekali, sekarang dia membacakannya setahun 2 kali, lalu Beliau berkata, “Sungguh saya melihat ajalku telah dekat, maka bertakwalah dan bersabarlah, sebaik-baiknya Salaf (pendahulu) untukmu adalah Aku”.
Maka akupun menangis yang engkau lihat saat kesedihanku. Dan saat Beliau membisikan yang kedua kali, Beliau berkata, ”Wahai Fatimah apakah engkau tidak suka menjadi penghulu wanita-wanita penghuni surga dan engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku”. Kemudian saya tersenyum.
Tatkala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah saw, Fatimah jatuh sakit, namun ia merasa gembira karena kabar gembira yang diterima dari ayahnya. Tak lama kemudian iapun beralih ke sisi Tuhannya pada malam Selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.
Amalan Terbaik
Alquran dan sunah Nabi SAW telah mengajarkan berbagai macam amal kebajikan sebagai bentuk ibadah seorang hamba kepada Allah untuk memperoleh surga-Nya. Dalam Alquran terdapat banyak ayat yang menjelaskan jenis kebajikan.
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari kiamat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, orang yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menunaikan janjinya, serta orang-orang yang sabar ketika dalam kemelaratan, penderitaan, dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]:177).
Dalam masalah tingkatan iman, Nabi SAW membaginya pada lebih dari 70 cabang. Cabang yang paling tinggi adalah kalimat tauhid la ilaha illallah (tidak ada Tuhan kecuali Allah). Sedangkan, cabang iman yang paling rendah adalah membuang duri atau rintangan di jalan (HR Jamaah dari Abu Hurairah).
Demikianlah Alquran dan sunah Nabi SAW yang banyak menjelaskan macam-macam amal ibadah dengan kedudukan dan keutamaan yang berbeda-beda. Ada yang wajib, sunah, yang asas, dan yang cabang. Selain itu, ada pula yang berfungsi sebagai rukun dan syarat sah ibadah, ada juga yang lebih tinggi kedudukannya dari ibadah yang lain.
Berkaitan dengan ini, para sahabat sering bertanya kepada Rasul SAW tentang amalan yang paling utama dan dianjurkan dalam Islam. Misalnya, pertanyaan Abdullah bin Mas’ud RA tentang amalan yang paling disukai Allah. Rasul menjawab, “Shalat pada waktunya, berbuat baik kepada ibu bapak, dan jihad di jalan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).
“Maukah aku ingatkan kalian dengan suatu amalan yang paling baik; amalan yang paling suci pada apa yang kalian miliki, paling tinggi derajatnya; lebih baik dan utama bagi kamu sekalian daripada menginfakkan emas; lebih baik bagi kamu sekalian daripada kalian berhadap-hadapan dengan musuh, kalian pukul lehernya dan mereka pun memukul leher kalian?”
Para sahabat menjawab, “Tentu kami mau, ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, "Mengingat Allah.” (HR Tirmidzi).
Jika disimpulkan, perbuatan yang dapat digolongkan dalam amalan paling super adalah mengucapkan kalimat tauhid, menjaga rukun iman dan Islam, berzikir (mengingat Allah), bersedekah dengan harta yang dicintainya, shalat pada waktunya, berbuat baik kepada orang tua, dan berjihad di jalan Allah (dengan maknanya yang sangat luas).
Di samping itu, masih ada amal perbuatan yang patut digolongkan dalam amalan yang paling super (terbaik), yaitu menciptakan kedamaian. Bahkan, kedudukan amalan ini lebih utama daripada derajat ibadah shalat, puasa, dan zakat.
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang suatu amalan yang lebih utama daripada derajat shalat, puasa, dan sedekah? Yaitu, menciptakan kedamaian (merukunkan) antara manusia sebab kerusakan hubungan di antara manusia adalah pembinasa agama.” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban). Wallahu a'lam.
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari kiamat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, orang yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menunaikan janjinya, serta orang-orang yang sabar ketika dalam kemelaratan, penderitaan, dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]:177).
Dalam masalah tingkatan iman, Nabi SAW membaginya pada lebih dari 70 cabang. Cabang yang paling tinggi adalah kalimat tauhid la ilaha illallah (tidak ada Tuhan kecuali Allah). Sedangkan, cabang iman yang paling rendah adalah membuang duri atau rintangan di jalan (HR Jamaah dari Abu Hurairah).
Demikianlah Alquran dan sunah Nabi SAW yang banyak menjelaskan macam-macam amal ibadah dengan kedudukan dan keutamaan yang berbeda-beda. Ada yang wajib, sunah, yang asas, dan yang cabang. Selain itu, ada pula yang berfungsi sebagai rukun dan syarat sah ibadah, ada juga yang lebih tinggi kedudukannya dari ibadah yang lain.
Berkaitan dengan ini, para sahabat sering bertanya kepada Rasul SAW tentang amalan yang paling utama dan dianjurkan dalam Islam. Misalnya, pertanyaan Abdullah bin Mas’ud RA tentang amalan yang paling disukai Allah. Rasul menjawab, “Shalat pada waktunya, berbuat baik kepada ibu bapak, dan jihad di jalan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).
“Maukah aku ingatkan kalian dengan suatu amalan yang paling baik; amalan yang paling suci pada apa yang kalian miliki, paling tinggi derajatnya; lebih baik dan utama bagi kamu sekalian daripada menginfakkan emas; lebih baik bagi kamu sekalian daripada kalian berhadap-hadapan dengan musuh, kalian pukul lehernya dan mereka pun memukul leher kalian?”
Para sahabat menjawab, “Tentu kami mau, ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, "Mengingat Allah.” (HR Tirmidzi).
Jika disimpulkan, perbuatan yang dapat digolongkan dalam amalan paling super adalah mengucapkan kalimat tauhid, menjaga rukun iman dan Islam, berzikir (mengingat Allah), bersedekah dengan harta yang dicintainya, shalat pada waktunya, berbuat baik kepada orang tua, dan berjihad di jalan Allah (dengan maknanya yang sangat luas).
Di samping itu, masih ada amal perbuatan yang patut digolongkan dalam amalan yang paling super (terbaik), yaitu menciptakan kedamaian. Bahkan, kedudukan amalan ini lebih utama daripada derajat ibadah shalat, puasa, dan zakat.
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang suatu amalan yang lebih utama daripada derajat shalat, puasa, dan sedekah? Yaitu, menciptakan kedamaian (merukunkan) antara manusia sebab kerusakan hubungan di antara manusia adalah pembinasa agama.” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban). Wallahu a'lam.
10 Golongan Musuh Setan
1. Nabi Muhammad
2. Pemimpin yang adil
3. Orang kaya yang rendah hati/tidak sombong
4. Pedagang/pengusaha yang jujur
5. Orang yang khusyu dalam sholat
6. Orang mukmin yang suka memberikan nasihat/dakwah
7. Orang yang bertaubat dan tetap pada taubatnya
8. Orang mukmin yang selalu membiasakan diri bersuci
9. Orang yang memelihara diri dari apa yang diharamkan oleh Allah
10. Orang mukmin yang pengasih
10 Golongan Teman Setan Dari Dunia Sampai Akhirat
1. Hakim yang curang, hakim yang tidak adil.
2. Orang kaya yang sombong.
3. Pedagang yang berhianat, baik sesama dengan pedagangnya, atau kepada para pembelinya.
4. Orang yang minum arak, pemabuk, bahkan di vonis tidak beriman Orang yang pada saat meninggal dunia didalam perutnya itu masih ada minuman yang memabukan.
5. Pemfitnah, tukang-tukang fitnah. Fitnah lebih bahaya dari pembunuhan,
6. Orang yang riya. Beramal cuma ingin di puji orang,ingin dilihat orang, tidak ada ikhlas.
7. Orang yang memakan harta anak yatim.
8. Orang yang mengangap ringan sholat.
9. Orang yang nggan membayar zakat.
10. Orang yang terlalu panjang angn-angan. penghitung bintang dilangit. Tidak mau berusaha cuma angan-angan kelewat panjang.
Sobat, kalau kita sudah tahu itulah teman-teman setan, teman-teman iblis, mari kita berusaha jangan termasuk kedalam salah satu dari sepuluh orang yang menjadi teman iblis.
Cara untuk mengatasinya bagai mana? Imam Al Ghazali memberikan tuntunan,
- Pertama untuk mengatasi perangkap setan jangan sampai kita termasuk teman setan, Ziqirullah, banyak ingat Kepada Allah.
- Yang Kedua, Jangan mendekati tempat maksiat.
- Yang ke tiga, mengosongkan perut (rajin puasa)
- Yang terakhir kata Imam Al Ghazali ialah Hendaknya kita selalu ingat bahwa tujuan iblis dan setan adalah menjerumuskan manusia, menyengsarakan manusia, supaya kita menjadi teman mereka di neraka nanti.
2. Orang kaya yang sombong.
3. Pedagang yang berhianat, baik sesama dengan pedagangnya, atau kepada para pembelinya.
4. Orang yang minum arak, pemabuk, bahkan di vonis tidak beriman Orang yang pada saat meninggal dunia didalam perutnya itu masih ada minuman yang memabukan.
5. Pemfitnah, tukang-tukang fitnah. Fitnah lebih bahaya dari pembunuhan,
6. Orang yang riya. Beramal cuma ingin di puji orang,ingin dilihat orang, tidak ada ikhlas.
7. Orang yang memakan harta anak yatim.
8. Orang yang mengangap ringan sholat.
9. Orang yang nggan membayar zakat.
10. Orang yang terlalu panjang angn-angan. penghitung bintang dilangit. Tidak mau berusaha cuma angan-angan kelewat panjang.
Sobat, kalau kita sudah tahu itulah teman-teman setan, teman-teman iblis, mari kita berusaha jangan termasuk kedalam salah satu dari sepuluh orang yang menjadi teman iblis.
Cara untuk mengatasinya bagai mana? Imam Al Ghazali memberikan tuntunan,
- Pertama untuk mengatasi perangkap setan jangan sampai kita termasuk teman setan, Ziqirullah, banyak ingat Kepada Allah.
- Yang Kedua, Jangan mendekati tempat maksiat.
- Yang ke tiga, mengosongkan perut (rajin puasa)
- Yang terakhir kata Imam Al Ghazali ialah Hendaknya kita selalu ingat bahwa tujuan iblis dan setan adalah menjerumuskan manusia, menyengsarakan manusia, supaya kita menjadi teman mereka di neraka nanti.
Lima Tiket Masuk Surga
Segala kenikmatan di surga tentu tidak gratis. Ibarat tempat wisata, untuk masuk ke dalamnya diperlukan tiket. Siapa tidak mengantongi tiket harus rela mundur. Berikut lima kebaikan untuk mendapatkan tiket itu. Pertama, mencegah diri dari kemaksiatan. Sepele, tetapi dalam praktiknya sangat tidak mudah. Sering kita mampu melanggengkan ibadah, tetapi gagal menanggalkan kemaksiatan. Boleh dikata, tidak bermaksiat rasanya lebih berat ketimbang taat. Karena itu, Allah berfirman, “Dan menahan diri dari dorongan nafsu, maka sungguh surga tempat tinggalnya” (QS An-Naziat: 40-41).
Kedua, siap hidup sederhana. Kelemahan utama manusia adalah mudah tergiur oleh kesenangan sesaat dengan mengorbankan kebahagiaan abadi. Melihat kekayaan Qarun, orang-orang yang gila harta berseru, “Amboi, andai kita memiliki seperti apa yang diberikan kepada Qarun. Sungguh ia mempunyai keuntungan yang besar (QS Al-Qashash: 79). Padahal Rasulullah berkisah, “Saya berdiri di pintu surga, sebagian besar yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Orang-orang kaya ditahan dulu” (HR Bukhari dan Muslim).
Ketiga, gemar mengerjakan ketaatan kepada Allah. Umat Islam adalah umat yang dididik untuk taat kepada aturan. “Sungguh Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya” (QS Al-Maidah: 1). Islam disebut sebagai ‘din’, yang artinya sistem ketundukan atau kepatuhan. Masyarakatnya disebut ‘madinah’, artinya suatu tempat yang kehidupannya teratur, karena orang-orangnya tunduk dan patuh kepada aturan. Mereka diganjar oleh Allah dengan surga. “Dan itulah surga yang diwariskan kepadamu, karena amal yang dahulu kamu kerjakan” (QS Al-A’raf: 43).
Keempat, mencintai orang-orang saleh. Dunia ini hancur karena adanya orang-orang jahat yang merasa berbuat baik. Hatinya bukan lagi nurani tetapi sudah zulmani. Rugilah bergaul dengan orang-orang demikian. Orang-orang saleh akan memberikan syafaat kepada kita. Tepatlah pesan Rasulullah, “Jangan kamu bersahabat, kecuali dengan orang Mukmin dan jangan pula makan makananmu, kecuali orang yang bertakwa” (HR Tirmidzi). Pentingnya bergaul dengan orang-orang saleh, kata Rasulullah, karena setiap orang akan bersama dengan kekasihnya (HR Bukhari dan Muslim).
Kelima, memperbanyak doa kepada Allah agar dapat menutup hidup dengan khusnul khatimah. Tiada daya tanpa pertolongan Allah. Memperbanyak doa merupakan wujud pengakuan bahwa kita memang hamba yang serba lemah. Sepanjang berkenan melangitkan doa, niscaya Allah akan menjawabnya. “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al-Baqarah: 186).
Subscribe to:
Posts (Atom)