Sumber serat Wedhatama.
Aywa sembrana ing kalbu
wawasen wuwusireki
Ing kono Yekti karasa
Dudu ucape pribadi
Marma den sambadeng sedya
Wewesen Praptaning uwis
Janganlah mengabaikan suara hati,
dan berusahalah selalu mawas diri.
Maka Kelak akan merasa adanya suara
Yang terucap bukan dari diri pribadi
Oleh karena itu, turutilah niat tersebut,
Sampai akhir tujuannya.
Marma den taberi kulup
angulah lantiping ati
Rina wengi den anedya
Pandak-panduking pambudi
Mbengkas kaardaning driya
Supadya dadya utami.
Oleh karena itu, tekunlah nak!
Dalam mengolah ketajaman hati
Dengan memohon siang malam
Untuk dapat menemukan kebenaran dan berusaha selalu berbuat baik
Dengan menyingkirkan gejolak hawa nafsu
Agar menjadi orang yang berbudi luhur
Pertanyaannya, bagaimana mengasah hati agar lebih tajam dan jelas dalam menyuarakan kebenaran sehingga kita semua mampu mendengarnya? Caranya yaitu
Pengasahe sepi samun
aywa esah ing salami
samangsa wis kawistara
lalandhepe mingis-mingis
pasah wukir reksamuka
kekes srabedaning budi
Dalam mengasah ketajaman hati
seyogyanya ditempat yang sunyi
Harus menjauhkan dari pikiran pamrih
Apabila sudah tajam dan dapat mengikis gunung (ibaratnya)
Maka harus mampu memerangi hawa nafsunya.
ISLAM AGAMAKU, ALLAH TUHANKU, MUHAMMAD NABIKU. WIJAYA MATRI WIRA, WICAK SANENG NAYA. (CERDAS MENGGUNAKAN PIKIRAN, BERANI MEMBELA YANG BENAR). DK.SIPIK - RT.01/RW.02 - DS.KALANGSONO - KEC.BANYUPUTIH - KAB.BATANG - JAWA TENGAH - INDONESIA. HP.0858 8287 0180 (KAMI MELAYANI KONSULTASI SEPUTAR SEPIRITUAL DAN KEHIDUPAN).
Saturday, 13 September 2014
Filosofi Pandawa Lima dalam tubuh setiap manusia

1. Yudhistira (Lokasi perumpamaan Yudhistira di tubuh manusia adalah diOTAK)
Yudhistira merupakan saudara Pandawa yang paling tua dan penjelmaan dewa Yama. Sifatnya sangat bijaksana, memiliki moral yang sangat tinggi, suka memaafkan dan mengampuni musuh yang sudah menyerah.
FILOSOFI: Jika manusia ingin mulia dalam hidupnya, maka pergunakanlah otak secara bijaksana dan tidak mengumbar ambisi untuk meraihnya, melainkan mengutamakan strategi untuk meraih kemuliaan hidup di dunia.
2. Bima/Sena/Werkudara (Lokasi perumpamaan Bima/Sena/Werkudara di tubuh manusia adalah pada MATA)
Bima merupakan putra kedua yang merupakan penjelmaan dari dewa Bayu sehingga sering dijuluki Bayusutha. Tubuhnya tinggi, dan berwajah paling sangar diantara saudara-saudaranya. Meskipun demikian, ia memiliki hati yang baik. Lantaran kekuatannya, Bima sangat ditakuti oleh sosok Kurawa dan musuh-musuhnya.
FILOSOFI: Satu hal yang membuat manusia ditakuti adalah matanya. Ketika manusia marah dan matanya melotot, maka orang lain pun akan sedikit gemetar melihat sorot matanya.
3. Arjuna/Janaka (Lokasi perumpamaan Arjuna/Janaka di tubuh manusia adalah pada HATI KECIL/HATI NURANI)
Arjuna merupakan penjelmaan dewa Indra yang juga dewa perang. Sifat utama dari Arjuna adalah sering bertapa, mendekatkan diri pada Sang Pencipta dan tidak pernah berbohong.
FILOSOFI: Kegemarannya bertapa membuat Arjuna sangat dekat dengan SANG PENCIPTA. Manusia yang sering mendengarkan hati kecilnya (nurani) maka ia cenderung memiliki keinginan mendekatkan diri pada ALLAH.
4-5 Nakula dan Sadewa (Lokasi perumpaan Nakula dan Sadewa di tubuh manusia adalah pada BUAH PELER KEMALUAN yang kembar).
Baik Nakula dan Sadewa adalah penjelmaan dewa Aswin yang merupakan dewa pengobatan. Keduanya memiliki sifat bijaksana dan senang melayani.
FILOSOFI: Manusia hendaknya bijaksana dalam menggunakan alat kelaminnya (tidak gonta-ganti pasangan). Dan memiliki kesetiaan untuk melayani pasangan hidupnya.
Itulah sanepan/perumpaan lokasi Pandawa Lima di tubuh anak Adam.
Sifat Kautaman 1 (JeJuA)
1. Jejeg
2. Jujur
3. Adil
1. Jejeg. Jejeg memiliki arti berdiri tegak (memiliki pendirian yang kuat). Tidak goyah sedikitpun meski diiming-imingi sesuatu. Jejeg yang dimaksud disini adalah berani mengatakan yang benar itu adalah benar, yang salah adalah salah. Jika seseorang sudah memiliki sifat Jejeg dalam hidupnya, maka ia tidak akan mudah terombang-ambing dalam arus godaan kehidupan
2. Jujur. Mungkin sudah banyak yang mengetahui arti kata jujur. Jujur memiliki arti tidak pernah berbohong dan selalu mengatakan yang sebenarnya meskipun itu pahit.
3. Adil. Meskipun Adil yang sejati hanya milik ALLAH, namun manusia di dunia ini juga mempunyai sifat adil meski tidak absolut. Adil yang dimaksud adalah tidak membela atau menyukai pihak-pihak tertentu. Semuanya sama.
2. Jujur
3. Adil
1. Jejeg. Jejeg memiliki arti berdiri tegak (memiliki pendirian yang kuat). Tidak goyah sedikitpun meski diiming-imingi sesuatu. Jejeg yang dimaksud disini adalah berani mengatakan yang benar itu adalah benar, yang salah adalah salah. Jika seseorang sudah memiliki sifat Jejeg dalam hidupnya, maka ia tidak akan mudah terombang-ambing dalam arus godaan kehidupan
2. Jujur. Mungkin sudah banyak yang mengetahui arti kata jujur. Jujur memiliki arti tidak pernah berbohong dan selalu mengatakan yang sebenarnya meskipun itu pahit.
3. Adil. Meskipun Adil yang sejati hanya milik ALLAH, namun manusia di dunia ini juga mempunyai sifat adil meski tidak absolut. Adil yang dimaksud adalah tidak membela atau menyukai pihak-pihak tertentu. Semuanya sama.
Friday, 12 September 2014
Belajar Lelaku Puasa dan Ngelmu dari Serat Wedharaga
Belajar Lelaku Puasa dan Ngelmu dari Serat Wedharaga
Oleh karena itu harus diingat
Jangan meninggalkan kalbu
Carilah ilmu yang bermanfaat
Kalau perlu bergurulah, jangan malu bertanya
Wong amarsudi kaweruh
Tetirona ing reh kang rahayu
Aja kesed sungkanan sabarang kardi
Sakadare anggenipun
Nimpeni kagunganing wong.
Orang mencari ilmu
Carilah ilmu keselamatan
Janganlah malas dan malu untuk mengupayakan
Sekedarnya untuk
Mendapatkan (ilmu) milik orang
Tinimbang lan angenganggur
Boya becik ipil-ipil kaweruh
Angger datan ewan panasaten sayekti
Kawignyane wuwuh-wuwuh
Wekasan kasub kinaot.
Daripada menganggur
Lebih baik mencari ilmu
Asalkan tidak malu nasehat sejati
Hingga penuh ilmu
Akhirnya nanti berguna
Lamun wus sarwa putus
Kapinteran sinimpen ing pungkur
Bodhonira katakokna ing ngarsa yekti,
Gampang traping tindak tanduk
Amawas pambekaning wong.
Jika sudah memiliki kepandaian
Simpanlah kepandaian itu
Perlihatkanlah kebodohan,
Itu akan mempermudah dalam bertindak tanduk
Memahami sikap orang lain.

BULAN Ramadan adalah bulan penuh hikmah bagi siapa yang bisa mengambil pelajaran. Yang dimaksud dengan pelajaran adalah dalam laku puasa yang biasa dilaksanakan pada bulan Ramadan. Di dalam laku puasa, terdapat beraneka hikmah dan ilmu yang bisa dipetik. Lelaku puasa itu pun juga diajarkan dalam ilmu Jawa.
Salah satu serat yang menyatakan pentingnya puasa dan hikmah yang terkandung di dalamnya adalah lewat serat Wedharaga. Disebut serat Wedharaga karena serat ini lebih menitik-beratkan pada latihan ragawi, salah satunya adalah dengan lelaku puasa. Apa saja isi dari serat Wedharaga yang berkaitan dengan puasa dan kewajiban kaum muda untuk mencari ilmu tersebut?
Serat Wedharaga
Pupuh Gambuh
Mangkene patrapipun
Wiwit anem amandenga laku
Ngengurangi pangan turu sawatawis
Amekak hawa nepsu
Dhasarana andhap asor.
Makanya yang tepat
Sejak muda saatnya untuk lelaku
Mengurangi makan tidur sementara
Menahan hawa nafsu
Dengan didasari sifat sopan santun
Akanthi awas emut
Aja tingal weweka ing kalbu
Mituhua wewaruh kang makolehi
Den taberi anggeguru, aja isin tetakon.
Salah satu serat yang menyatakan pentingnya puasa dan hikmah yang terkandung di dalamnya adalah lewat serat Wedharaga. Disebut serat Wedharaga karena serat ini lebih menitik-beratkan pada latihan ragawi, salah satunya adalah dengan lelaku puasa. Apa saja isi dari serat Wedharaga yang berkaitan dengan puasa dan kewajiban kaum muda untuk mencari ilmu tersebut?
Serat Wedharaga
Pupuh Gambuh
Mangkene patrapipun
Wiwit anem amandenga laku
Ngengurangi pangan turu sawatawis
Amekak hawa nepsu
Dhasarana andhap asor.
Makanya yang tepat
Sejak muda saatnya untuk lelaku
Mengurangi makan tidur sementara
Menahan hawa nafsu
Dengan didasari sifat sopan santun
Akanthi awas emut
Aja tingal weweka ing kalbu
Mituhua wewaruh kang makolehi
Den taberi anggeguru, aja isin tetakon.
Oleh karena itu harus diingat
Jangan meninggalkan kalbu
Carilah ilmu yang bermanfaat
Kalau perlu bergurulah, jangan malu bertanya
Wong amarsudi kaweruh
Tetirona ing reh kang rahayu
Aja kesed sungkanan sabarang kardi
Sakadare anggenipun
Nimpeni kagunganing wong.
Orang mencari ilmu
Carilah ilmu keselamatan
Janganlah malas dan malu untuk mengupayakan
Sekedarnya untuk
Mendapatkan (ilmu) milik orang
Tinimbang lan angenganggur
Boya becik ipil-ipil kaweruh
Angger datan ewan panasaten sayekti
Kawignyane wuwuh-wuwuh
Wekasan kasub kinaot.
Daripada menganggur
Lebih baik mencari ilmu
Asalkan tidak malu nasehat sejati
Hingga penuh ilmu
Akhirnya nanti berguna
Lamun wus sarwa putus
Kapinteran sinimpen ing pungkur
Bodhonira katakokna ing ngarsa yekti,
Gampang traping tindak tanduk
Amawas pambekaning wong.
Jika sudah memiliki kepandaian
Simpanlah kepandaian itu
Perlihatkanlah kebodohan,
Itu akan mempermudah dalam bertindak tanduk
Memahami sikap orang lain.
Ilmu Jawa (Njowo)
Yang disebut ilmu Jawa atau biasa disebut Njowo adalah ilmu yang tidak mengenal permusuhan. Yang diajarkan dalam ilmu itu adalah cinta kasih sesama makhluk ALLAH. Jawa sendiri memiliki arti mengerti. Jadi jika belajar ilmu Jawa maka harus mengerti dan memahami tentang manusia sebagai titah sempurna yang ada di jagad raya ini. Manusia di dunia ini tidak dapat hidup sendirian dan perlu ada penopang lainnya seperti binatang dan tumbuhan. Artinya, manusia harus mampu menyatu dengan manusia lainnya karena pada hakekatnya manusia itu satu (Semua adalah anak Adam dan Hawa).
Disamping itu, manusia itu juga harus menjaga keseimbangan lingkungannya bersama tumbuhan dan hewan yang ada. Karena pada hakekatnya, tumbuhan dan binatang tersebut diciptakan ALLAH semuanya demi kemuliaan manusia itu sendiri.
Jadi, ilmu Njowo itu adalah ilmu yang tidak menyakiti sesamanya, justru malah harus welas asih dan senantiasa menjaga bumi tempat kita berpijak ini. Memayu Hayuning Bawono (mempercantik bumi tempat kita tinggal ini).
Disamping itu, manusia itu juga harus menjaga keseimbangan lingkungannya bersama tumbuhan dan hewan yang ada. Karena pada hakekatnya, tumbuhan dan binatang tersebut diciptakan ALLAH semuanya demi kemuliaan manusia itu sendiri.
Jadi, ilmu Njowo itu adalah ilmu yang tidak menyakiti sesamanya, justru malah harus welas asih dan senantiasa menjaga bumi tempat kita berpijak ini. Memayu Hayuning Bawono (mempercantik bumi tempat kita tinggal ini).
Lelaku Panembahan Senopati (Tokoh Jawa)
Lelaku Panembahan Senopati
TANAH JAWA memiliki banyak sosok tokoh yang bisa diteladani. Yang dimaksud diambil keteladannannya adalah dalam hal olah spiritual. Seperti halnya sosok Raja Mataram Islam pertama yakni Danang Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati.
Sebagai seorang raja, Panembahan Senopati yang hidup di lingkup istana, tak lalai dalam mengasah olah rasa dan tapa brata. Dalam berbagai kesempatan beliau senantiasa menyempatkan diri untuk mencuri waktu dalam kesendirian dan lelaku.
Semua lelaku tersebut tertuang dalam serat Wedhatama yang berbunyi
Nulada laku utama
tumraping wong tanah Jawi
Wong Agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senopati
Kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinesu tapa brata
Tanapi ing siang ratri
Amemangun karyenak tyasing sasama
Mencontoh laku yang baik
terhadap orang tanah Jawa
Tokoh besar di Ngeksiganda
Panembahan Senopati
berusaha dengan sungguh-sungguh
mengurangi hawa dan nafsu
dengan cara bertapa
yang dilakukan siang dan malam
mewujudkan perasaan senang bagi sesamanya.
Samangsane pasamuan
mamangun marta martani
sinambi ing saben mangsa
kalakalaning ngasepi
Lelana teki-teki
Nggayuh geyonganing kayun
Kayungyun eninging tyas
Sanityasa pinrihatin
Pungguh panggah cegah dhahar lawan nendra
Ketika berada dalam pertemuan
membahas sesuatu dengan kerendahan hati
dan pada setiap kesempatan
Sekali-sekali menyepi
berkelana kemana-mana
Berusaha mengambil yang hakiki
Dalam keheningan batinnya
Dengan senantiasa berprihatin
Dengan cara mengurangi makan dan tidur
Saben mendra saking wisma
Lelana laladan sepi
Ngisep sepuhing sopana
Mrih pana pranaweng kapti
Tis-tising tyas marsudi
Mardawaning budya tulus
Mesu reh kasudarman
neng tepining jalanidhi
Sruning brata kataman wahyu dyatmika
Setiap keluar rumah
Selalu berkelana mencari tempat sepi
dengan tujuan meresapi ilmu sepuh
agar mengerti tiap-tiap tingkatan ilmu dan maknanya
ketajaman hati dimanfaatkan untuk menempa jiwa
untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus
dengan bertapa dan mengharapkan wahyu suci
Dari tiga cuplikan serat tersebut, kita bisa belajar dari lelaku dan olahrasa yang telah dicontohkan Panembahan Senopati. Hal yang patut dicatat, bahwa meski Panembahan Senopati sebagai Raja yang bergelimang dengan kenikmatan dunia, tetapi beliau tidak pernah tergoda dan senantiasa lelaku guna seluruh rakyat dan keturunannya.
Berbeda dengan kita yang hidup di dunia modern saat ini. Ketika kita bergelimang harta benda, justru kita malah melupakan yang hakiki dan kita cenderung justru terjerat dalam kenikmatan tersebut. Maka dari itu, alangkah baiknya kita mengkaji lagi lelaku dari hal yang telah dilakukan Panembahan Senopati itu.
Sebagai seorang raja, Panembahan Senopati yang hidup di lingkup istana, tak lalai dalam mengasah olah rasa dan tapa brata. Dalam berbagai kesempatan beliau senantiasa menyempatkan diri untuk mencuri waktu dalam kesendirian dan lelaku.
Semua lelaku tersebut tertuang dalam serat Wedhatama yang berbunyi
Nulada laku utama
tumraping wong tanah Jawi
Wong Agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senopati
Kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinesu tapa brata
Tanapi ing siang ratri
Amemangun karyenak tyasing sasama
Mencontoh laku yang baik
terhadap orang tanah Jawa
Tokoh besar di Ngeksiganda
Panembahan Senopati
berusaha dengan sungguh-sungguh
mengurangi hawa dan nafsu
dengan cara bertapa
yang dilakukan siang dan malam
mewujudkan perasaan senang bagi sesamanya.
Samangsane pasamuan
mamangun marta martani
sinambi ing saben mangsa
kalakalaning ngasepi
Lelana teki-teki
Nggayuh geyonganing kayun
Kayungyun eninging tyas
Sanityasa pinrihatin
Pungguh panggah cegah dhahar lawan nendra
Ketika berada dalam pertemuan
membahas sesuatu dengan kerendahan hati
dan pada setiap kesempatan
Sekali-sekali menyepi
berkelana kemana-mana
Berusaha mengambil yang hakiki
Dalam keheningan batinnya
Dengan senantiasa berprihatin
Dengan cara mengurangi makan dan tidur
Saben mendra saking wisma
Lelana laladan sepi
Ngisep sepuhing sopana
Mrih pana pranaweng kapti
Tis-tising tyas marsudi
Mardawaning budya tulus
Mesu reh kasudarman
neng tepining jalanidhi
Sruning brata kataman wahyu dyatmika
Setiap keluar rumah
Selalu berkelana mencari tempat sepi
dengan tujuan meresapi ilmu sepuh
agar mengerti tiap-tiap tingkatan ilmu dan maknanya
ketajaman hati dimanfaatkan untuk menempa jiwa
untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus
dengan bertapa dan mengharapkan wahyu suci
Dari tiga cuplikan serat tersebut, kita bisa belajar dari lelaku dan olahrasa yang telah dicontohkan Panembahan Senopati. Hal yang patut dicatat, bahwa meski Panembahan Senopati sebagai Raja yang bergelimang dengan kenikmatan dunia, tetapi beliau tidak pernah tergoda dan senantiasa lelaku guna seluruh rakyat dan keturunannya.
Berbeda dengan kita yang hidup di dunia modern saat ini. Ketika kita bergelimang harta benda, justru kita malah melupakan yang hakiki dan kita cenderung justru terjerat dalam kenikmatan tersebut. Maka dari itu, alangkah baiknya kita mengkaji lagi lelaku dari hal yang telah dilakukan Panembahan Senopati itu.
Penjelasan Mengenai Shirathal Mustaqim
Telah tersebut sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad, An-Nasaa’iy dan At-Tirmidziy dengan sanadnya masing-masing hingga An-Nawwaas bin Sam’aan radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلَا تَتَفَرَّجُوا وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ قَالَ وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ تَعَالَى وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ تَعَالَى وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِي فَوْقَ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ
“Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, “Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam Shirath dan janganlah kalian menoleh kesana kemari!”
Sementara di bagian dalam dari Shirath juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, “Celaka kau! Janganlah sekali-kali membukanya! Karena jika kau membukanya maka kau akan masuk kedalamnya.”
Ash-Shirath itu adalah Al-Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta’ala. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan Shirath itu adalah Kitabullah (Al-Qur`an) ‘Azza wa Jalla. Sedangkan penyeru dari atas Shirath adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang mukmin.”
Memohon dijauhkan dari berbagai dosa sebagaimana jauhnya timur dan barat
اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ، وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
Allaahummagh sil khataayaaya bimaa’its tsalji wal baradi, wa naqqi qalbiy minal khataayaaya kamaa naqqaitats tsaubal abyadha minad danasi, wa baa’id bainiy wa baina khataayaaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghribi.
Ya Allah, bersihkanlah dosa-dosaku dengan salju dan embun, sucikanlah hatiku dari dosa-dosaku sebagaimana Kau sucikan pakaian putih dari kotoran, dan jauhkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana Kau jauhkan timur dengan barat.
Memohon kelurusan dalam suatu perkara dan berlindung dari keburukan diri
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي
Allaahummagh firliy dzanbiy wa khatha’iy wa ‘amdiy.
Ya Allah, ampunilah dosaku, kekeliruanku dan kesengajaanku.
اللَّهُمَّ أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي
Allaahumma astahdiika li arsyadi amriy, wa a’udzuubika min syarri nafsiy.
Ya Allah, aku memohon petunjukMu kepada perkaraku yang lurus, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan diriku.
Allaahummagh firliy dzanbiy wa khatha’iy wa ‘amdiy.
Ya Allah, ampunilah dosaku, kekeliruanku dan kesengajaanku.
اللَّهُمَّ أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي
Allaahumma astahdiika li arsyadi amriy, wa a’udzuubika min syarri nafsiy.
Ya Allah, aku memohon petunjukMu kepada perkaraku yang lurus, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan diriku.
Memohon perlindungan dari berbagai tipu daya syaithan
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ، مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْثِهِ، وَنَفْخِهِ “، فَهَمْزُهُ: الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ: الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ: الْكِبْرُ
Allaahumma inniy a’uudzubika minasy syaithaani, min hamzihi wa naftsihi wa nafkhihi.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari syaithan, dari bisikannya, ludahnya dan tiupannya. Bisikannya adalah kegilaan, ludahnya adalah sya’ir dan tiupannya adalah kesombongan.
Allaahumma inniy a’uudzubika minasy syaithaani, min hamzihi wa naftsihi wa nafkhihi.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari syaithan, dari bisikannya, ludahnya dan tiupannya. Bisikannya adalah kegilaan, ludahnya adalah sya’ir dan tiupannya adalah kesombongan.
Subscribe to:
Posts (Atom)